Wasiat Imam Ali Ibn Abi Thalib AS
Wasiat Imam Ali as

Dengan menyebut nama ALLAH yang MAHA PENGASIH lagi MAHA PENYAYANG
Sahabat mungkin ada yang tau surat Wasiat Imam Ali as ,tetapi yang belum bisa lihat disini. Sebenarnya Surat Wasiat Imam Ali as untuk putranya, Imam Al-Hasan as tetapi bisa untuk renungan kita bersama karena kita (saya sendiri ) sering lalai kepada Sang Pencipta
“Dari ayah yang telah tua, yang mengakui pengalaman masa yang mengunduri umur, yang menyerah kepada keadaan, yang meremehkan dunia, yang tinggal ditempat orang-orang yang telah mati, dan kelak ia
pun akan meninggalkan tempat itu. Kepada anak yang masih mengharap sesuatu yang tidak mudah dicapai, yang sedang melalui jalan yang telah di tempuh oleh orang-orang yang telah binasa, sasaran dari segala penyakit, tanggungan hari-hari, sasaran bala’ hamba dunia, pedagang tipuan, langganan bencana, tawanan maut, sekutu kerisauan, teman duka-cita, incaran bencana, selalu dikalahkan syahwat, dan sebagai khalifah dari orang-orang yang telah mati. Amma ba’du (Adapun setelah kata pendahuluan itu). Sesungguhnya dari pengalamanku dari apa yang nyata bagiku tentang mundurnya dunia dari padaku, dan ketegangan masa atas diriku. Dan menghadapnya alam akhirat kepadaku, sesuatu yang meng-enggankanku (membuatku enggan) untuk memperingatkan orang lain dan memerhatikan apa yang berada di belakangku. Hanya saja setelah aku menyendiri memperhatikan kepentinganku, maka timbullah pendapatku yang benar dan dipalingkan aku dari hawa nafsuku, dan jelas bagiku urusanku yang asli, sehingga mendorong diriku kepada kesungguhan yang bukan main-main, dan kebenaran yang bukan dusta, dan aku menganggapmu sebagian dari diriku, bahkan dapat pula dianggap sebagai keseluruhan diriku. Sehingga umpama ada sesuatu mengenai dirimu, berarti hal itu langsung mengenai diriku, dan seolah-olah umpama maut itu datang kepadamu berarti ia juga datang kepadaku. Maka terasa urusanku sendiri, maka karena itulah aku menulis surat wasiat ini kepadamu, untuk melahirkan kepentingan itu, baik aku masih lanjut hidup atau segera mati . Sesungguhnya aku berwasiat kepadamu supaya tetap bertaqwa kepada Allah, dan tetap mengerjakan perintah-Nya, dan memakmurkan hatimu dengan zikrullah, serta berpegang dengan Al-Qur’an, dan pegangan mana lagi yang lebih kuat daripada pegangan (tali) yang menghubungkan antara dirimu dengan Allah jika berpegangan kepadanya. Hidupkan hatimu dengan suka menerima/memperhatikan nasehat. Dan matikan dengan sifat zuhud (mengabaikan kemewahan), dan kuatkan dengan keyakinan, dan terangilah hatimu dengan hikmah. Dan lunakkan hatimu dengan selalu mengingati maut dan sadarkanlah dengan adanya kerusakan, dan perlihatkan kepadanya bencana-bencana dunia, dan peringatkan terhadap kejadian-kejadian dimasa, dan kengerian yang terjadi pada tiap siang dan malam. Hidangkan kepadanya berita-berita orang terdahulu dan peringatkan dengan apa yang menimpa orang-orang sebelumnya. Dan pergilah ke daerah dan tempat mereka untuk memerhatikan bekas-bekas mereka, kemudian perhatikan apa yang mereka lakukan, dan mengapa mereka berpindah dan dimana kini mereka tinggal dan berada, maka engkau akan mendapatkan tinggal ditempat pengasingan seorang diri. Dan anggaplah dirimu tidak lama akan menjadi sama dengan seseorang dari mereka, karena itu perbaikilah dirimu (tempat yang akan kau tempati itu), dan jangan menjual akhirat untuk memperoleh dunia. Dan jangan membicarakan apa yang tidak engkau ketahui, dan menjawab apa yang bukan kewajibanmu. Hentikanlah perjalananmu jika engkau khawatir tersesat, karena berhenti disaat kebingungan itu lebih baik daripada menerjang bahaya.”
Wasiat Imam Ali as
“Dari ayah yang telah tua, yang mengakui pengalaman masa yang mengunduri umur, yang menyerah kepada keadaan, yang meremehkan dunia, yang tinggal ditempat orang-orang yang telah mati, dan kelak ia
pun akan meninggalkan tempat itu. Kepada anak yang masih mengharap sesuatu yang tidak mudah dicapai, yang sedang melalui jalan yang telah di tempuh oleh orang-orang yang telah binasa, sasaran dari segala penyakit, tanggungan hari-hari, sasaran bala’ hamba dunia, pedagang tipuan, langganan bencana, tawanan maut, sekutu kerisauan, teman duka-cita, incaran bencana, selalu dikalahkan syahwat, dan sebagai khalifah dari orang-orang yang telah mati. Amma ba’du (Adapun setelah kata pendahuluan itu). Sesungguhnya dari pengalamanku dari apa yang nyata bagiku tentang mundurnya dunia dari padaku, dan ketegangan masa atas diriku. Dan menghadapnya alam akhirat kepadaku, sesuatu yang meng-enggankanku (membuatku enggan) untuk memperingatkan orang lain dan memerhatikan apa yang berada di belakangku. Hanya saja setelah aku menyendiri memperhatikan kepentinganku, maka timbullah pendapatku yang benar dan dipalingkan aku dari hawa nafsuku, dan jelas bagiku urusanku yang asli, sehingga mendorong diriku kepada kesungguhan yang bukan main-main, dan kebenaran yang bukan dusta, dan aku menganggapmu sebagian dari diriku, bahkan dapat pula dianggap sebagai keseluruhan diriku. Sehingga umpama ada sesuatu mengenai dirimu, berarti hal itu langsung mengenai diriku, dan seolah-olah umpama maut itu datang kepadamu berarti ia juga datang kepadaku. Maka terasa urusanku sendiri, maka karena itulah aku menulis surat wasiat ini kepadamu, untuk melahirkan kepentingan itu, baik aku masih lanjut hidup atau segera mati . Sesungguhnya aku berwasiat kepadamu supaya tetap bertaqwa kepada Allah, dan tetap mengerjakan perintah-Nya, dan memakmurkan hatimu dengan zikrullah, serta berpegang dengan Al-Qur’an, dan pegangan mana lagi yang lebih kuat daripada pegangan (tali) yang menghubungkan antara dirimu dengan Allah jika berpegangan kepadanya. Hidupkan hatimu dengan suka menerima/memperhatikan nasehat. Dan matikan dengan sifat zuhud (mengabaikan kemewahan), dan kuatkan dengan keyakinan, dan terangilah hatimu dengan hikmah. Dan lunakkan hatimu dengan selalu mengingati maut dan sadarkanlah dengan adanya kerusakan, dan perlihatkan kepadanya bencana-bencana dunia, dan peringatkan terhadap kejadian-kejadian dimasa, dan kengerian yang terjadi pada tiap siang dan malam. Hidangkan kepadanya berita-berita orang terdahulu dan peringatkan dengan apa yang menimpa orang-orang sebelumnya. Dan pergilah ke daerah dan tempat mereka untuk memerhatikan bekas-bekas mereka, kemudian perhatikan apa yang mereka lakukan, dan mengapa mereka berpindah dan dimana kini mereka tinggal dan berada, maka engkau akan mendapatkan tinggal ditempat pengasingan seorang diri. Dan anggaplah dirimu tidak lama akan menjadi sama dengan seseorang dari mereka, karena itu perbaikilah dirimu (tempat yang akan kau tempati itu), dan jangan menjual akhirat untuk memperoleh dunia. Dan jangan membicarakan apa yang tidak engkau ketahui, dan menjawab apa yang bukan kewajibanmu. Hentikanlah perjalananmu jika engkau khawatir tersesat, karena berhenti disaat kebingungan itu lebih baik daripada menerjang bahaya.”
'' WASIAT IMAM ALI AS SEBELUM WAFAT ''
Menjelang wafat, hanya hal-hal penting yang diingat. Mari kita simak bersama wasiat Ali bin Abi Thalib menjelang wafat. Wasiat dari Ali pastilah penting. Apalagi bagi temen-temen syi'ah, yang meyakini Ali sebagai imam maksum yang wajib diikuti.
Dari Abu Ali Al Asy’ari, dari Muhammad bin Abdul Jabbar, dan Muhammad bin Ismail, dari Fadhl bin Syadzan, dari Shafwan bin Yahya, dari Abdurrahman bin Hajjaj berkata : Abul Hasan Musa Alaihissalam mengirimkan padaku wasiat Amirul Mukminin Alaihissalam, isinya : Bismillahirrahmanirrahim, ini adalah wasiat dari pembagian harta dari hamba Allah Ali, demi mencari ridha Allah, kiranya agar sudi memasukkan saya ke sorga dan menjauhkan dari neraka karena wasiat ini, pada hari di mana ada wajah yang putih dan ada juga wajah yang menghitam, seluruh harta milikku yang ada di Yanbu’ dan sekitarnya adalah sedekah, dan seluruh budaknya selain Rabah dan Abu Naizar dan Jubair adalah merdeka, tidak ada yang boleh menghalangi mereka, mereka adalah budak, mengelola harta selama lima tahun, mereka boleh mengambil bagian harta untuk nafkah pribadi mereka dan keluarganya, sedangkan harta milik saya yang ada di Wadil Qura, dari harta milik anak keturunan Fatimah berikut budaknya adala sedekah, dan yang ada di Dimah beserta penduduknya adalah sedekah, kecuali Zuraiq, berlaku baginya seperti yang aku lakukan pada teman-temannya, sedangkan hartaku yang ada di Adzinah berikut penduduknya adalah sedekah, dan Faqirain seperti yang kalian ketahui adalah sedekah di jalan Allah, dan yang telah kutentukan dari hartaku ini adalah sedekah yang wajib kutunaikan baik saat aku hidup maupun sudah mati, seluruhnya diinfakkan demi mencari keridhoan Allah, di jalan Allah, demi meraih keridhoanNya, dan untuk kerabatku dari golongan Bani Hasyim serta Bani Muthalib, yang dekat maupun yang jauh, semuanya dikelola oleh Hasan bin Ali, dia boleh memakan harta itu dengan baik-baik, dan menginfakkan di jalan yang diajarkan Allah, maka itu halal dilakukannya, tidak ada masalah, jika dia ingin maka boleh dijadikan miliknya, sesungguhnya anak-anak Ali, budak dan hartanya adalah dikelola oleh Hasan bin Ali. Jika rumah yang menjadi miliknya bukan termasuk rumah sedekah, dan dia ingin menjualnya maka dia boleh menjualnya. jika dia menjualnya, maka hasil penjualannya dibagi menjadi tiga, sepertiga disedekahkan di jalan Allah, dan dua pertiga untuk Bani Hasyim dan bani Muthalib, sepertiganya untuk keluarga Abu Thalib, dibagikan pada mereka sesuai petunjuk Allah, jika terjadi sesuatu pada Hasan sedangkan Husein masih hidup, maka dikelola oleh Husein bin Ali, dan Husein harus mengelola sesuai dengan petunjukku pada Hasan, dia wajib melakukan apa yang dilakukan oleh Hasan, bagian sedekah untuk anak-anak fatimah adalah sama seperti anak-anak Ali, saya menggariskan ketentuan untuk anak keturunan Fatimah adalah untuk mencari keridhoan Allah dan menghormati Rasulullah, mengagungkan dan memuliakan Rasulullah dan Fatimah, jika terjadi sesuatu pada Hasan dan Husein, maka yang masih hidup di antara mereka berdua melihat anak cucu Ali , jika ada dari mereka yang baik agama dan amanatnya, maka diserahkan padanya jika dia mau, jika tidak ada dari mereka yang baik agama dan amanatnya, maka diserahkan pada salah satu dari anak cucu Abu Thalib yang dilihatnya baik, jika di antara anak cucu Abu Thalib sudah tidak ada lagi yang dituakan dan bijaksana, maka diserahkan pada salah satu dari Bani Hasyim, dengan syarat agar harta itu tetap dan tidak dijual, dan menginfakkan hasilnya seperti yang telah kutentukan, yaitu fi sabilillah, dan pada keluarga bani hasyim dan bani muthalib, tidak boleh dijual, dihibahkan dan diwariskan, dan harta Muhammad bin Ali yang menjadi miliknya, maka dia digabungkan dengan bagian anak cucu Fatimah, dan budak-budak yang namanya ada dalam daftar kecil, mereka seluruhnya merdeka. Inilah ketentuan yang dituliskan oleh Ali bin Abi Thalib dalam pengelolaan hartanya pada pagi ini, sehari setelah aku sampai di Muskin( nama tempat dekat Kufah), demi mencari keridhoan Allah dan negeri akherat, hanya Allah lah tempat kita semua meminta tolong dalam segala kondisi, tidak halal bagi seorang muslim yang beriman pada Allah dan hari akhir untuk merubah dan melanggar ketentuan ini, baik orang dekat maupun orang jauh. Dan budakku yang kugauli, jumlahnya 17, ada dari mereka yang memiliki anak, ada yang hamil, ada lagi yang tidak memiliki anak, siapa yang memiliki anak atau sedang hamil, maka tidak dimerdekakan, dan menjadi bagian anaknya, jika anaknya mati sedang dia masih hidup, maka dia merdeka tidak boleh ada yang menggugat, ini adalah pembagian yang ditentukan oleh Ali bagi hartanya, sehari setelalh sampai di Muskin, disaksikan oleh Abu Samr bin Burhah, Sha’sha’ah bin Shuhan, Yazid bin Qais, Hiyaj bin Abi Hiyaj, Ali menulis wasiat ini dengan tangannya sendiri pada 10 Jumadil Ula tahun 37 H.
Selain berwasiat mengenai pengelolaan hartanya, Ali juga berwasiat:
Bismillahirrahmanirrahim, inilah wasiat dari Ali bin Abi Thalib, mewasiatkan bahwa dirinya bersyahadat tiada tuhan selain Allah, hanya Dia sendiri tidak ada sekutu baginya, dan Muhammad adalah hamba dan RasulNya, diutus dengan petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas seluruh agama, walaupun orang musyrik benci. Shallallahu Alaihi Wa Aalihi, lalu sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Rabbul Alamin, tidak ada sekutu baginya dan itulah yang diperintahkan padaku, dan aku termasuk golongan muslimin. Lalu aku mewasiatkan padamu wahai Hasan, dan seluruh ahlulbaitku, dan anakku, juga seluruh mereka yang membaca tulisanku ini, agar bertaqwa pada Allah Rabb kalian, jangan sampai kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Berpeganglah pada tali Allah bersama-sama, dan janganlah kalian berpecah belah, karena aku mendengar Rasulullah bersabda: hubungan baik di antara kaum muslimin lebih baik daripada shalat dan puasa secara umum, dan : hal yang merontokkan agama, yang menghabiskan agama adalah rusaknya hubungan baik di antara kaum muslimin, tidak ada daya dan upaya melainkan dari Allah semata, yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Perhatikanlah kerabat dekat kalian, sambunglah silaturahmi, agar Allah memudahkan hisab amalan kalian. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang anak yatim, teruslah memberi makanan mereka, jangan sampai terputus, jangan sampai mereka tidak terurus di depan kalian, aku telah mendengar rasulullah bersabda: siapa yang menanggung hidup anak yatim sampai bisa bekerja dan mencukupi hidupnya, Allah mewajibkan baginya sorga, sebagaimana mewajibkan neraka bagi orang yang memakan anak yatim. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang Al Qur’an, jangan sampai kalian ketinggalan dalam mengamalkanya dari orang lain, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang tetangga kalian, karena Rasulullah telah berwasiat tentang mereka, dan selalu mewasiatkan sampai kami mengira bahwa tetangga akan mewarisi harta tetangganya. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang rumah-rumah Allah (masjid) jangan sampai kosong dari kehadiaran kalian selama kalian masih hidup, jika kalian meninggalkan rumah-rumah Allah, kalian tidak diberi tenggang lagi dari azab, dan hal yang didapat dari orang yang pergi ke masjid adalah diampuni dosanya yang telah lalu, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang shalat, karena shalat adalah sebaik-baik amalan, shalat adalah tiang agama. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang zakat, sungguh zakat memadamkan kemarahan Rabb kalian, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang puasa Ramadhan, karena berpuasa pada bulan itu adalah perisai dari api neraka, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang kaum fakir dan miskin, ikutkan mereka dalam kehidupan kalian, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang jihad dengan harta, jiwa dan lisan kalian, karena hanya ada dua macam orang yang berjihad, yaitu imam yang membawa petunjuk, dan orang taat yang mengikuti petunjuk imam, Aku ingatkan kalian pada Allah tentang keturunan Nabi kalian, jangan sampai mereka dizhalimi di depan mata kalian, sedangkan kalian mampu membela mereka. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang sahabat Nabi kalian, yang tidak berbuat dosa dan tidak melindungi pendosa, karena Rasulullah mewasiatkan mereka, dan melaknat orang yang berbuat jahat di antara mereka, atau melindungi penjahat, juga dari selain mereka. Aku ingatkan kalian pada Allah tentang wanita dan budak, karena kata akhir Nabi kalian adalah : akuw asiatkan pada kalian dua golongan lemah, yaitu wanita dan budak. Shalat, shalat, shalat, dan janganlah kalian takut melakukan perintah Allah karena celaan orang, Allah akan membela kalian dari orang yang mengganggu dan menganiaya kalian, ucapkan perkataan yang baik pada manusia, seperti telah diperintahkan oleh Allah. janganlah kalian meninggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, jika kalian tinggalkan, Allah akan menjadikan bagi kalian pemimpin dari golongan terjelek dari kalian, lalu kalian berdo’a dan tidak dikabulkan. Wahai anakku, hendaknya engkau menyambung hubungan, memberi orang lain dan berbuat baik, hindarilah memutus hubungan, saling membelakangi dan berpecah belah, hendaknya kalian saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong menolong atas perbuatan dosa dan permusuhan, bertakwalah pada Allah, sesungguhnya hukuman Allah adalah keras, semoga Allah menjaga kalian, seperti menjaga keluarga Nabi dan NabiNya di antara kalian, kutitipkan kalian pada Allah, dan aku membaca Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Lalu Ali terus mengucapkan : Laa Ilaaha Illallah, hingga akhirnya wafat…. Pada malam tanggal 23 Ramadhan, bertepatan malam jumat, tahun 40 H
Wasiat Imam Ali as kepada Al-Hasan as
"Bukalah mata hatimu agar mampu melihat bencana-bencana yang memenuhi dunia ini. Ingatkan ia pada kebuasan terkaman zaman dan kengerian perubahan yang terjadi di waktu siang dan malamnya. Tunjukilah ia peristiwa-peristiwa orang terdahulu. Ingatkan ini atas segala yang menimpa orang-orang sebelummu. Berjalanlah di atas puing-puing rumah mereka dan reruntuhannya. Perhatikan apa saja yang telah mereka perbuat dan apa saja yang telah mereka tinggalkan. Di mana kini mereka menetap dan berdiam?
Niscaya engkau akan mendapati mereka telah berpindah dari lingkungan orang-orang yang mereka cintai dan kini tinggal dalam lingkungan yang sama sekali asing. Seakan-akan engkau pun tak akan lama lagi akan menjadi seperti mereka. Maka, perbaikilah dirimu dan jangan jual akhiratmu dengan duniamu.
Perintahkanlah dirimu sendiri untuk berbuat amar ma'ruf, niscaya dengannya engkau akan termasuk kalangan ahlinya. Tolaklah kemungkaran dengan tindakan dan ucapanmu serta jauhilah siapa yang mengerjakannya dengan sekuat tenaga. Berjihadlah di jalan Allah dengan setulus-tulusnya jihad dan jangan gentar menghadapi celaan siapa saja yang mencelamu karena itu. Ceburkanlah dirimu ke kancah kesulitan seperti apapun dalam mencari kebenaran di mana pun ia berada.
Usahakanlah terus-menerus memperdalam pengetahuan tentang agamamu. Biarkan dirimu agar selalu sabar dan tabah dalam menghadapi segala musibah. Sungguh mulia kesabaran dalam kebenaran.
Jadikanlah dirimu bernaung di bawah lindungan Tuhanmu dalam segala urusan. Dengan begitu, engkau berarti telah memilihkan tempat bagi dirimu sendiri tempat perlindungan yang paling kuat, kukuh, lagi perkasa."
Niscaya engkau akan mendapati mereka telah berpindah dari lingkungan orang-orang yang mereka cintai dan kini tinggal dalam lingkungan yang sama sekali asing. Seakan-akan engkau pun tak akan lama lagi akan menjadi seperti mereka. Maka, perbaikilah dirimu dan jangan jual akhiratmu dengan duniamu.
Perintahkanlah dirimu sendiri untuk berbuat amar ma'ruf, niscaya dengannya engkau akan termasuk kalangan ahlinya. Tolaklah kemungkaran dengan tindakan dan ucapanmu serta jauhilah siapa yang mengerjakannya dengan sekuat tenaga. Berjihadlah di jalan Allah dengan setulus-tulusnya jihad dan jangan gentar menghadapi celaan siapa saja yang mencelamu karena itu. Ceburkanlah dirimu ke kancah kesulitan seperti apapun dalam mencari kebenaran di mana pun ia berada.
Usahakanlah terus-menerus memperdalam pengetahuan tentang agamamu. Biarkan dirimu agar selalu sabar dan tabah dalam menghadapi segala musibah. Sungguh mulia kesabaran dalam kebenaran.
Jadikanlah dirimu bernaung di bawah lindungan Tuhanmu dalam segala urusan. Dengan begitu, engkau berarti telah memilihkan tempat bagi dirimu sendiri tempat perlindungan yang paling kuat, kukuh, lagi perkasa."
10 WASIAT IMAM ALI AS
Siapa yang tidak kenal Imam Ali? Ia adalah menantu Rasulullah dan sekaligus sepupunya. Sepanjang hayatnya Ia tidak pernah berpisah dari Rasulullah. Waktu muda Imam Ali dan Rasulullah dirawat oleh Abu Thalib dan setelah dewasa Imam Ali ditikahkan dengan Siti Fatimah puteri Rasul. Jadi Imam Ali tidak pernah keluar dari lingkaran keluarga Rasul (Ahlul Bait). Salah satu wasiat Imam Ali yang menakjubkan diantaranya adalah 10 wasiat Imam Ali: (1) dosa terbesar adalah takut, (2) rekreasi terbesar adalah bekerja, (3) kesalahan terbesar adalah putus asa, (4) keberanian terbesar adalah sabar, (5) guru terbaik adalah pengalaman, (6) rahasia yang paling berarti adalah mati, (7) kebanggaan terbesar adalah kepercayaan, (8)keuntungan terbesar adalah anak sholeh, (9) pemberian terbesar adalah partisipasi, (10) modal terbesar adalah percaya diri.
Melihat makna yang begitu dalam, rasanya kita harus berusaha melaksanakan wasiat itu. Mudah-mudahan kita diberi kekuatan untuk mengamalkannya. Amien
No comments
Post a Comment