Santa Teresa dari Avila
PENDAHULUAN
individualisme: cenderung untuk mengabaikan (tidak
mempedulikan) sesama
atheisme kontemporer [1]: cenderung untuk mengabaikan Tuhan
Kecenderungan-kecenderungan ini tampak pula dalam relasi
antar pribadi.
Di hadapan kenyataan ini pesan dan ajaran Santa Teresa dari
Avila tentang persahabatan rohani (relasi rohani) seakan-akan menantang kita.
Tulisan ini dia tulis bertahun-tahun yang lalu dan dia tujukan untuk para
susternya, namun dapat dikatakan bahwa ajarannya masih ‘valid’ untuk dunia kita
saat ini. Tentunya dengan penerapan yang disesuaikan dengan budaya/ tempat dan
situasi/status hidup kita.
I. Dimensi Positif dan Negatif suatu Persahabatan dalam
Perjalanan menuju Kesempurnaan
Salah satu karakteristik dari karya Teresa “Jalan
Kesempurnaan” adalah karakteristik pedagogia dan asketik hidup rohani dan doa.
Lalu, mengapa Teresa menyajikan topik ‘persahabatan’ dalam karya ini?
Untuk menjawabnya mari kita lihat beberapa idenya:
1. “[...] tidak ada
yang begitu berat yang tidak dapat ditanggung dengan mudah di antara mereka
yang saling mencinta, [...]” (CV 4,5). Kita dapat katakan bahwa kasih memberi
kita kekuatan untuk menanggung beban, untuk menerima kelemahan sesama, dan
lain-lain. Suasana/lingkungan penuh kasih bagaikan tanah subur bagi tumbuhnya
kebajikan-kebajikan. “[...], siapa menikmati persahabatan maju pesat dalam
jalan kesempurnaan.” (CV 7,4).
2. “Demi cinta kepada
Tuhan, jauhilah persahabatan khusus (ekslusif), [...], karena bahkan di antara
saudara akan menjadi beracun. Saya tidak melihat keuntungan di dalamnya,
[...].” (CV 4,7).
3. “Oh, Tuhanku,
betapa banyaknya kesia-siaan yang bersembunyi dalam persahabatan-persahabatan
khusus ini! [...] jika ini tidak baik untuk setiap religius, apalagi bagi
seorang superior benar-benar merupakan suatu penyakit sampar.” (CV 4,8).
4. “[...], setan
dapat mendinginkan sedikit demi sedikit kasih kepada sesama dan membuatnya
menganggap sebagai suatu kesempurnaan apa yang merupakan suatu kelemahan.” (CV
7,6).
Dalam tiga kutipan terakhir kita temukan hal-hal negatif
sehubungan dengan persahabatan. Teresa mengatakan bahwa setan memasang banyak
jebakan di sana (bdk. CV 4,5). Jebakan-jebakan ini bisa kita bagi dalam 2
kelompok ekstrem. Pertama, persahabatan yang tidak sehat dan kekanak-kanakan
(yaitu: persahabatan yang disebut Teresa dengan ‘persahabatan khusus/ekslusif’
). Kedua, ketidakpedulian atau relasi yang dingin.
Dari pandangan-pandangan Teresa di atas tampak bahwa dia
melihat dimensi positif dan juga dimensi negatif dari suatu
persahabatan/relasi/afeksi dalam hidup rohani, dalam perjalanan jiwa menuju
Tuhan, menuju kesempurnaan. Oleh karena itu, dia ingin mengajar para susternya
bagaimana membangun suatu relasi yang positif (yaitu: suatu persahabatan
rohani). Dia berniat menyajikan suatu pedagogia dari afeksi, kasih, dan persahabatan
menuju relasi antar pribadi yang dewasa.
II. Tuhan: Pusat Persahabatan Rohani
Menurut saya, kita dapat memberikan suatu definisi mendasar
dari persahabatan rohani yang diajarkan Teresa, yaitu: suatu
persahabatan/relasi yang menempatkan Tuhan sebagai ‘pusat’nya.
Definisi ini membawa banyak makna.
Primat Tuhan (Tuhanlah yang Utama)
Menarik bahwa pada awal bab 6, di mana dia memulai topik
persahabatan rohani, Teresa mengatakan:
“Saya rasa, ketika Tuhan membuat jiwa tiba pada pengetahuan
akan apa itu dunia dan betapa fananya dunia ini, pada kejelasan/terang akan
keberadaan suatu dunia lain yang begitu berlawanan dengan yang pertama – yang
satu abadi sedang yang lain hanyalah sebuah mimpi pendek –, pada perbedaan
antara kasih Sang Pencipta dan kasih dari ciptaan-ciptaan [...], maka jiwa itu
akan mencinta dengan cara yang sama sekali berbeda [...].” (CV 6,3).
Walau kata-kata di atas kedengarannya sederhana, namun
sesungguhnya itu merupakan dasar penting dari suatu persahabatan rohani, yaitu:
menyadari bahwa Tuhan adalah Tuhan, Sang Pencipta, sedang semua hal/pribadi
lain hanyalah ciptaan. Tuhan pantas dicintai dan harus dicintai lebih dari
segala yang lain. Kesadaran akan perbedaan tingkat antara Tuhan dan ciptaan
akan membuat seseorang menempatkan Tuhan sebagai pusat hidupnya dan pusat
seluruh keberadaannya, termasuk pusat relasi-relasinya. Dia melihat dan menilai
segala sesuatu dari sudut pandang Tuhan. Kehendak dan kemuliaan Tuhan adalah
norma tertinggi yang dicarinya.
Tuhan adalah Tujuan dan Pusat Perhatian
Tuhan adalah pusat persahabatan berarti bahwa perhatian jiwa
dalam persahabatan adalah Tuhan, kemuliaan-Nya. Jiwa mencintai Tuhan dan ingin
bertumbuh dalam kasihNya. Jiwa ingin agar sahabatnya juga mencintaiNya dan
bertumbuh dalam kasihNya. Jadi, Tuhan adalah tujuan dalam persahabatan.
Karena Tuhan adalah pusat perhatian dan karena jiwa sadar
akan kesia-siaan segala sesuatu di dunia ini, maka jiwa tidak peduli apakah
kasihnya akan dibalas atau tidak (bdk. CV 6,7). Ini adalah kasih yang murni,
sebuah kasih yang tidak mengharapkan apa-apa sebagai imbalan/balasan. “Mereka
selalu lebih cenderung memberi daripada menerima; [...]” (CV 6,7).
“Inilah yang saya katakan layak untuk dinamakan ‘kasih’,
namun afeksi-afeksi rendah duniawi telah merampas nama itu.” (CV 6,7). Menurut
Teresa, ini adalah kasih yang layak untuk disebut sebagai ‘kasih’. Mengapa?
Teresa mengatakan bahwa jika kita mencintai seseorang dan mengharapkan untuk
dicintai olehnya, umumnya kita mencari kepentingan atau kesenangan kita sendiri
(bdk. CV 6,7). Jadi, jika kita ‘mencintai’ seseorang atau memiliki suatu
persahabatan untuk memperoleh kepentingan kita, kita patut menanya diri: “Siapa
sesungguhnya yang saya cintai? Tuhan, teman saya, ataukah diri saya sendiri?”.
Kita mencintai diri kita sendiri. Persahabatan (atau teman kita) hanyalah suatu
alat atau sarana untuk mencapai tujuan-tujuan atau maksud-maksud pribadi kita.
Bisa terjadi bahwa Tuhan tidak mempunyai tempat sama sekali dalam persahabatan
seperti ini. Bisa juga terjadi bahwa Tuhan menjadi tujuan pribadi jiwa,
sementara si teman hanyalah sebuah alat / sarana. Itu berarti: jiwa ingin dan
berusaha untuk bertumbuh dalam perjalanannya menuju Tuhan dengan memakai
persahabatan / teman tersebut, tetapi dia tidak peduli apakah si teman akan
bertumbuh juga atau tidak. Ini bukanlah persahabatan rohani yang diharapkan
Teresa (Bdk. CV 7,4). Sebaliknya, dalam persahabatan rohani, jiwa sungguh
peduli dan mau melakukan semua usaha yang mungkin walau hanya untuk suatu
kemajuan rohani kecil dari temannya. Dia akan bahagia melihat perkembangan
temannya, dan akan sedih jika melihat kemundurannya (Bdk. CV 7,1.4).
Seakan-akan dia memanggul salib temannya.
Karena Tuhan adalah tujuan, jiwa tidak ragu-ragu untuk
memperingatkan atau memberitahu si teman jika dia melakukan sesuatu yang
‘salah’. Jiwa tidak mau dan tidak bisa ‘diam saja’ dengan tujuan memperoleh
simpati si teman. Bila perlu, jiwa akan mengadakan ‘perang’ melawan si teman
dengan maksud menariknya kembali ke jalan Tuhan. Ini mengingatkan kita akan
kata-kata Yesus bahwa Dia datang untuk membawa pedang (bdk. Mt 10:34-39). Saya
rasa, di sini Yesus mengacu pada situasi di mana kehendak dari ‘orang-orang
yang kita cintai’ berlawanan dengan kehendak dan kepentingan Tuhan. Jadi, dalam
situasi seperti ini, di mana kita harus memilih kehendak orang yang kita cintai
atau kehendak Tuhan, Yesus menekankan bahwa kita harus memilih kehendak dan
kepentingan Tuhan. Jika tidak, berarti kita menempatkan orang yang kita cintai
itu lebih tinggi daripada Tuhan, Sang Pencipta. Ini juga merupakan ‘tanda’ yang
menunjukkan apakah jiwa ‘melekat’ pada si teman atau tidak.
Tentu saja wajar jika jiwa senang dicintai atau mendapat
balasan kasih, namun jiwa dapat menilai bahwa balasan kasih itu tidak penting.
Kristus adalah Teladan Cinta Kasih
Tuhan adalah pusat persahabatan berarti juga bahwa Tuhan
adalah model atau teladan dalam mengasihi, seperti kata Kristus sendiri “sama
seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”
(Yoh 13:34b). Dalam persahabatannya, jiwa berusaha mencintai Kristus: “[...]
kasih tersebut mengingat dan meniru kasih yang dimiliki Yesus bagi kita, kasih
yang tak terbatas.” (CV 7,4). Contoh: jiwa rela berkurban demi kebaikan
temannya.
“Jiwa-jiwa ini, [...] mencurahkan kasihnya dengan giat
berusaha agar dia (si teman) layak dicintai oleh Tuhan, [...]. [...]; mereka
akan rela mengurbankan hidupnya seribu kali demi sedikit kebaikan baginya.” (CV
6,9)
‘Kebaikan’ di sini terutama mengacu pada keselamatan jiwa,
bukan pada ‘kebaikan-kebaikan duniawi’. Karena bagi jiwa segala hal duniawi
tidak berharga sama sekali. Cara jiwa melihat, menilai hal-hal atau
kejadian-kejadian berbeda. Misalnya: jika si teman menghadapi pencobaan atau
saat-saat sulit, jiwa tidak jatuh dalam kecemasan/kesedihan yang mendalam,
tetapi dia mengharapkan buah-buah rohani yang Tuhan ingin berikan bagi si teman
melalui pencobaan tersebut. Jiwa akan berdoa dan berharap agar si teman menjadi
lebih kuat di dalamnya. Walaupun, jika mungkin, jiwa akan bahagia bila dapat
menanggung pencobaan itu sendiri dan memberikan buahnya saja kepada si teman
(bdk. CV 7,4). Sebenarnya inilah yang telah dilakukan Kristus bagi kita. Dia
mati di salib untuk memberi kita buah-buah salib, yaitu persatuan kita dengan
Bapa. Inilah juga buah yang diharapkan jiwa bagi si teman: persatuan dengan
Tuhan.
‘Terbuka’ bagi sesama yang lain
Penting untuk dicatat bahwa kasih rohani atau persahabatan
rohani yang diajarkan Teresa juga memuat ‘keterbukaan’ bagi sesama, karena
Teresa menekankan para susternya untuk saling mengasihi. “[...] – semua harus
saling bersahabat, semua harus saling mengasihi dan saling menolong.” (CV 4,7)
dan dia memperingatkan akan bahaya dari “persahabatan khusus/ekslusif”. Kasih
yang murni dan sejati bukan berarti kasih yang ditujukan hanya pada satu orang.
Jika demikian, hati kita akan menjadi budak dari orang tersebut.
“Saudari-saudariku, janganlah pernah membiarkan hati kita menjadi budak dari
seseorang selain dari Dia yang telah membebaskannya dengan darah-Nya; [...]”
(CV 4,8).
Tuhan: “Pemersatu” dalam Persahabatan
“[...] mereka berharap untuk tetap mencintainya (mencintai
si teman) dan tahu dengan baik bahwa hal itu tidak mungkin jika tidak memiliki
harta rohani dan sangat mencintai Tuhan.” (CV 6,8). Dapat kita lihat dari
kutipan di atas, bahwa jiwa mengasihi si teman, menghargai persahabatan mereka
dan berharap bahwa persahabatan itu tetap akan berlanjut. Dia takut dipisahkan
darinya ‘selamanya’. “Kematian sementara bukan merupakan masalah, karena dia (jiwa)
tidak ingin melekatkan diri dari sesuatu yang dalam satu tiupan saja lenyap di
antara kedua tangan tanpa mampu menahannya.” (CV 7,1). Kecemasannya adalah
keselamatan jiwa si teman. Dia sadar bahwa persahabatan mereka tidak akan abadi
jika mereka ‘di luar Tuhan’ (Bdk. CV 6,9).
Jadi, Tuhanlah pemersatu dalam persahabatan mereka. Mereka
bersatu dalam Tuhan dan oleh Tuhan. Dalam Tuhan seorang teman adalah
‘selamanya’.
III. Beberapa Petunjuk Praktis
Biarpun mempunyai gambaran ideal tentang persahabatan, namun
Teresa sangat realistis. Dia menerima kondisi manusiawi jiwa dengan aspek
psikologisnya (termasuk afeksi jiwa) dan juga kelemahan manusiawi jiwa.
Berulangkali dia menekankan pentingnya rahmat Tuhan. Dia juga menyadari bahwa
dibutuhkan waktu untuk membangun suatu persahabatan rohani. Atau, lebih tepat
jika dikatakan bahwa seseorang membutuhkan waktu untuk bertumbuh dalam
relasi-relasinya, untuk membuat relasi-relasinya itu menjadi ‘rohani’. “Cara
mengasihi seperti itu yang kuinginkan ada di antara kalian. Biarpun pada
awalnya tidaklah sempurna, Tuhan perlahan-lahan akan menyempurnakannya.” (CV
7,5).
Berikut adalah beberapa petunjuk praktis yang diberikan
Teresa kepada para susternya:
Sikap toleran
Dia ingin agar kita bersikap toleran terhadap sesama
(sehubungan dengan kelemahan-kelemahan mereka). Mengapa? Karena jika kita
‘kuat’ dalam bidang kelemahan mereka tersebut, ini adalah berkat rahmat Tuhan.
Tanpa rahmat-Nya, kita akan selemah mereka, bahkan lebih lemah daripada mereka.
Jadi, sikap toleran kita adalah suatu tanda kerendahan hati kita. Memahami
kelemahan sesama juga akan membuat kita memahami perjuangan-perjuangan dan
penderitaan-penderitaan mereka. Kita akan memahami bukan hanya dengan pikiran,
tapi juga dengan hati. Kita dapat merasakannya. Ini merupakan suatu jalan
menuju persatuan yang baik. Salib dari yang seorang akan menjadi salib bagi
semua yang lain. Seperti kata Santo Paulus (bdk. Rm 12:4-5), jika satu anggota
tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya juga. Kita adalah tubuh
Kristus, kita adalah satu.
“Baik dan kadang-kadang penting untuk merasakan dan
menunjukkan kelembutan, menjadi peka terhadap kesukaran dan kelemahan
saudari-saudari kita.” (CV 7,5).
“[...] janganlah kita mengadili berdasarkan diri kita sendiri,
jangan pula memandang diri kita pada saat di mana, mungkin tanpa usaha apa-apa
dari kita, Tuhan membuat kita kuat, tapi pada saat di mana kita lemah.” (CV
7,5)
“Ketahuilah bahwa nasihat ini sangat penting untuk belajar
mengambil bagian dengan penderitaan-penderitaan sesama, [...]” (CV 7,6)
Beberapa ungkapan dari sikap toleran adalah:
tidak menghakimi mereka
mendoakan mereka
berusaha mempraktekkan kebajikan yang berlawanan dengan
kelemahan mereka untuk menyemangati mereka atau memberi mereka inspirasi.
Menurut Teresa, penting untuk mengajar dengan tindakan dan teladan apa yang
tidak bisa mereka mengerti dengan kata-kata (Bdk. CV 7,7). Tindakan dan teladan
kita berbicara lebih lantang daripada kata-kata kita.
Berdoa dan Waspada
“Perlu untuk selalu waspada dan berjaga karena setan tidak
tidur, terlebih bagi jiwa-jiwa yang mendambakan kesempurnaan tinggi, karena
setan benar-benar tersamar, [...]” (CV 7,6)
“Mereka harus selalu berjaga dan berdoa, karena tidak ada
obat atau penawar yang lebih baik daripada doa untuk menyingkapkan jebakan
tersembunyi dari setan dan memaksanya menunjukkan diri.” (CV 7,6)
Teresa mengingatkan kita akan kata-kata Yesus:
“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan:
roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Mt 26:41). Saya yakin kita tidak
meragukan pentingnya doa dan manfaatnya yang tak terhitung, tetapi di sini,
saya ingin menggarisbawahi peranan doa dalam menyingkapkan jebakan setan
seperti dikatakan Teresa di atas. Jika kita berdoa, kita masuk dalam keheningan
hati. Sesungguhnya Tuhan selalu hadir di sana, tetapi dalam keributan hati
kita, kita tidak mempunyai perhatian untuk-Nya. Kita tidak melihat-Nya dan kita
juga tidak mendengarkan-Nya. Dalam doa kita ‘datang’ kepada-Nya, berbicara dengan-Nya
dan mendengarkan suara-Nya. Dia menyatakan kepada kita banyak hal. Bersama-Nya
kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang-Nya. Inilah sebabnya mengapa
kita bisa melihat jebakan si setan. Lebih dari sekedar menyingkapkan jebakan
tersebut, Dia memberi kita rahmat untuk mengalahkannya.
Beberapa Petunjuk Praktis Lainnya
“[...] janganlah dipakai dan juga tidak seharusnya dipakai,
(kata-kata) seperti: «hidupku », «jiwaku», «cintaku» dan yang serupa itu untuk
satu sama lain. Kata-kata mesra tersebut hendaknya dikhususkan untuk Mempelai
kalian.” (CV 7,8).
“[...], ringankanlah beban dan pekerjaan rumah-tangga
saudari-saudarimu dengan menggantikannya; demikian juga bergembira dan
bersyukurlah pada Tuhan melihat kemajuan mereka dalam kebajikan.” (CV 7,9).
“Jika terucap kata-kata melawan cinta kasih, berikan segera
obat / penawarnya dan berpalinglah kepada Tuhan dengan doa yang
sungguh-sungguh.” (CV 7,10)
Apa yang harus dilakukan terhadap mereka yang ‘menawarkan’
tipe lain dari afeksi/persahabatan (yaitu yang tidak rohani)? Menyadari ‘kasih’
mereka sebagai ungkapan kasih Tuhan bagi kita, kita berterima kasih kepada
mereka dengan cara membawa mereka kepada Tuhan dalam doa dan minta Tuhan
sendiri yang menjawab ‘kasih’ mereka itu (Bdk. CV 6,5)
KESIMPULAN
Yang terutama, Teresa mengajar kita bahwa Tuhan harus
menjadi pusat diri kita, karena Dia adalah Tuhan, Sang Pencipta. Berpusat pada
Tuhan, kita mengasihi sesama. Keterpusatan pada Tuhan tidak membuat jiwa
mengabaikan sesamanya, sebaliknya ini akan memurnikan kasihnya kepada mereka.
“Kalian mungkin mengira bahwa jiwa-jiwa demikian tidak mengasihi dan tidak tahu
mengasihi siapapun kecuali Tuhan. Mereka justru mengasihi, bahkan lebih lagi,
kasih mereka lebih sejati, lebih bernyala-nyala, lebih berguna; singkatnya
itulah kasih.” (CV 6,7). Kasih atau afeksinya dan relasi atau persahabatan jiwa
akan menjadi ‘rohani’.
Keterpusatan pada Tuhan akan terungkap dalam semua
karakteristik persahabatan rohani. Misalnya:
Tuhan adalah pusat perhatian dan tujuan
Kristus adalah model / teladan kasih
‘Keterbukaan’ kepada sesama yang lain
Tuhan adalah pemersatu dalam persahabatan
Akhirnya kita bisa simpulkan bahwa ajaran Teresa berakar
pada hukum utama yang Kristus berikan kepada kita, yaitu: agar kita mencintai
Tuhan dengan segenap diri atau keberadaan kita dan agar kita mencintai sesama
seperti kita mencintai diri kita sendiri (bdk. Mrk 12:28-31).
Bibliografi: “Jalan Kesempurnaan” Teresa Avila
No comments
Post a Comment