Breaking News

MEKANIKA TANAH


Praktikum Bor Tangan

A. TUJUAN PRAKTIKUM
Pekerjaan pengeboran dilakukan untuk mengambil sampel tanah dari berbagai kedalaman. Biasanya dilakukan di samping lubang sondir agar didapatkan korelasi antara kekuatan tanah dan jenis tanah yang dikandungnya.

B. PERALATAN
1. Iwan Auger
2. Stang bor
3. Pemutar stang bor
4. Tabung sampel
5. Stick aparat
6. Kunci pipa
7. Palu besar
8. Kaleng/plastik (untuk penyimpanan sampel)
9. Parafin
10. Kompor
11. Pan
12. Spoon

C. PROSEDUR PENGUJIAN
1. Bersihkan daerah di sekitar lubang yang akan dibor.
2. Pasang auger pada stang bor, lalu pasang pemutarnya.
3. Tekan auger kedalam tanah sambil putar, setelah sampel tanah mengisi auger sampai penuh (20cm) kemudian auger diangkat dengan hati-hati.
4. Keluarkan sampel tanah dari dalam auger untuk dibuat deskripsi jenis tanah dan bahan-bahan yang dikandungnya. Simpan dalam kaleng/plastik dan diberi label yang memberikan keterangan nomor titik bor, kedalaman, tanggal pengeboran.
5. Ulangi prosedur 3 dan 4 sampai tercapai kedalaman yang diinginkan. Sam pel tanah yang didapat adalah sampel tanah tidak asli (disturbed sample) dan hanya digunakan untuk keperluan klasifikasi dan deskripsi tanah.
6. Untuk mendapatkan sampel tanah asli (undisturbed sample) digunakan tabung sampel. Auger yang tadi digunakan sekarang diganti dengan tabung sampel yang telah disambung dengan stick aparat. Masukkan kedalam lubang yang telah dibentuk.
Bila tanahnya cukup lunak, tabung sampel ditekan perlahan-lahan sampai masuk sedalam 40 cm kemudian diputar satu kali untuk melepaskan/memotong sampel tanah pada dasar tabung kemudian diangkat.
Bila tanahnya cukup keras sehingga tabung tidak dapat ditekan, gunakan palu untuk memukulnya, lakukan dengan cara perlahan-lahan.
7. Setelah didapatkan sampel tanah asli dalan tabung, lepaskan stick aparat lalu dinding luar tabung dibersihkan. Potonglah kedua ujung tanah setebal 1 cm kemudian tutup dengan cairan parafin. Lakukan satu persatu pada waktu penutupnya dengan paraf in.
8. Tuliskan label yang berisi nomor titik bor, kedalaman, bagian atas/bagian bawah, tanggal pengambilan sampel dan lain-lainnya dibagian luar tabung.
9. Sampel tanah asli ini sebaiknya dimasukkan kembali kedalam peti pelindung terutama bila tempat pemeriksaan/laboratorium cukup jauh.

D. PERAWATAN
1. Bersihkan mata bor dan stangnya setiap kali selesai dipakai lalu dilumuri dengan oli secukupnya untuk menghindari karat.
2. Sebelum dipakai, tabung sampel harus dalam keadaan bersih dan bagian dalamnya diberi pelumas sehingga tanah bias masuk maupun keluar dengan mudah.

E. HASIL PRAKTIKUM


Lokasi Praktikum Boring


Keterangan :
1 = Gedung E1
2 = Gedung E3
3 = Gedung E4
4 = Gedung E5
5 = Gedung E6
6 = Lapangan Tenis
BH1 = Lokasi Pengeboran
S1 = Lokasi Sondir

F. PEMBAHASAN
Dari kegiatan praktikum pengeboran yang telah dilakukan di lokasi, dapat diambil kesimpulan bahwa jenis tanah yang ada di lokasi pengeboran adalah tanah lempung dengan plastisitas tinggi. Tanah tersebut berwarna merah kecoklatan dan dapat dibentuk. Tanah dengan kondisi tersebut terdapat pada semua sampel yang diambil (5 sampel) mulai dari kedalaman 20cm sampai 100cm.

MEKANIKA TANAH

Pengujian Kadar Air pada Tanah

Cara uji penentuan kadar air untuk tanah dan batuan SNI 1965:2008

A. PENDAHULUAN
Kadar air (w) didefinisikan sebagai perbandingan antara berat air (Ww) dengan berat butiran (Ws) dalam tanah tersebut, dinyatakan pada persen.
w = Ww / Ws x 100%

B. TUJUAN PRAKTIKUM
Pengujian ini digunakan untuk menentukan kadar air sampel tanah yaitu perbandingan berat air yang terkandung dalam tanah dengan berat kering tanah tersebut.

C. PERALATAN
1. Cawan kadar air
2. Timbangan ketelitian 0,01 gram
3. Oven
4. Desikator

D. PROSEDUR PENGUJIAN
1. Timbang cawan yang akan dipakai berikut tutupnya lalu beri nomor/tanda.
2. Masukkan benda uji yang akan diperiksa kedalam cawan tersebut lalu tutup.
3. Tim bang cawan yang telah berisi benda uji tersebut.
4. Masukkan kedalam oven yang suhunya telah diatur 110ºC selama 24 jam sehingga beratnya konstan (tutup cawan dibuka).
5. Setelah dikeringkan dalam oven, cawan tersebut lalu dimasukkan ke dalam desikator agar cepat dingin.
6. Setelah dingin, timbang kembali cawan yang telah berisi tanah kering tersebut.
Catatan: 
1. Berat benda uji dan neraca yang dipakai harus disesuaikan dengan butiran tanah maksimum agar didapatkan hasil yang teliti.


Ukuran butir maksimumBerat benda uji minimumKetelitian
3/41000 gram1 gr
# 10100 gram0,1 gr
# 4010 gram0,01 gr

2. Jika tidak tersedia oven pengering, maka pengeringan dapat dilakukan dengan cara:
o Digoreng diatas kompor.
o Dibakar langsung setelah disiram dengan spiritus (khusus untuk tanah yang tidak mengandung bahan yang mudah terbakar).
o Menggunakan speedy moisture content test.
3. Masing-masing cawan dan tutupnya harus diberi tanda yang jelas agar tidak tertukar.
4. Pada waktu menimbang, tutup cawan selalu terpasang.
5. Untuk mendapatkan hasil yang dapat dipercaya, setiap sampel tanah diuji sebanyak 5 kali.

E. PERAWATAN
1. Bersihkan cawan kedap air segera setelah percobaan selesai.
2. Jemur silica gel yang berada dalam desicator secara berkala untuk menghilangkan air yang diserapnya.

F. HASIL PRAKTIKUM
Uji Kadar Air Pada Sampel Tanah
Judul Pekerjaan : Praktikum Mektan
Lokasi Pekerjaan : Lab. Mektan Jurusan Teknik Sipil
Nomor Boring : BH1
Kedalaman : -0.60 M
Tanggal Pengujian : 01 Oktober 2010
Diuji Oleh : Kelompok 05 Rombel 03

MEKANIKA TANAH

Jenis Tanah dan Klasifikasi Tanah

Di bidang teknik sipil, tanah dapat didefinisikan sebagai material lapukan batuan yang terdiri dari butiran (agregat) mineral-mineral padat, bahan organik yang melapuk, serta zat cair serta gas yang mengisi ruang kosong diantara butiran. Sebutan dan deskripsi perbedaan fisik tanah berikut dapat membantu mengerti tentang bagaimana tanah dikelompokan untuk kepentingan rekayasa bangunan.

a) Batu (Stone). Batu merupakan materi yang kekal yang terbentuk dari bahan mineral yang keras, seperti granit atau batu kapur, yang hanya dapat dipindahkan dengan membor atau meledakkan. Batu tersusun dari butiran material yang saling merekat seperti halnya beton, dan merupakan bahan dari alam terkuat di bidang bangunan.

b) Batu Bongkah (Boulder). Bongkah merupakan hasil lapukan batuan yang berukuran kira-kira diperlukan dua tangan untuk dapat mengangkat.

c) Geragal/kerakal. Lapukan batuan ini relatif dapat di pegang / dipindahkan dengan satu tangan. 

d) Kerikil (Gravel). Ukuran butir ini kira-kira cukup mudah untuk dapat dipindahkan dengan jari tangan. Berdasarkan sistem pengelompokan USCS (Unified Soil Clasification Sytem), ukuran gravel lebih besar dari 6,5 mm (0,25 Inchi).

e) Pasir (Sand). Butiran cukup jelas untuk dilihat, namun cukup sulit untuk diambil dengan jari. Ukuran butir pasir lebih kecil dari kerikil, 6,5 mm – 0,06 mm (0,25 – 0,002 Inch). Bersama-sama kerikil sering disebut sebagai tanah berbutir kasar. 

f) Lanau (Silt). Ukuran butir lanau lebih kecil dari pasir, yakni berkisar antara 0.06 – 0.002 mm (0.002 – 0,00008 mm. Lanau ini relatif memiliki sifat mirip pasir, tanah berbutir halus.

g) Lempung (Clay). Butiran lempung berukuran lebih kecil dari lanau, kurang dari 0.00008 mm. Karena kecilnya ukuran dan berbutir lempeng, jenis tanah ini bersifat stabil, sangat dipengaruhi kandungan pori dan jumlah air yang mengisi pori tanah lempung. 

h) Humus (peat). Humus dan jenis tanah organik lain tidak diperkenankan untuk menerima beban pondasi. Karena banyak mengandung bahan organik, butiran tanah ini tidak kekal dan mudah berubah volume karena dipengaruhi oleh faktor biologis dan usia.

Untuk kepentingan bidang teknik sipil deskripsi tersebut masih kurang untuk dapat menggambarkan jenis, simbol dan sifat tanah. Karenanya, dilakukanlah sistem klasififikasi tanah oleh sekelompok ahli atau lembaga mulai dari bidang pertanian hingga bidang tranportasi. Unified Soil Classification System (USCS) dan American Association of State Highway Transportation Officials System (AASHTO) adalah sistem klasifikasi yang banyak dirujuk dan relevan untuk kepentingan bidang teknik sipil, seperti tercantum pada Tabel 5.1.




(Sumber Referensi : Buku Teknik Struktur Bangunan Jilid 2 untuk SMK. Karya Dian Ariestadi. Tahun 2008)

MEKANIKA TANAH

Pengujian Berat Jenis Tanah

A. PENDAHULUAN

Berat jenis (spesific gravity) tanah (Gs) didefinisikan sebagai perbandingan antara berat volume butiran padat (ys) dengan berat volume air (yw) pada temperatur tertentu. Biasanya diambil pada temperatur 27,5 ºC. Rumus untuk mencari berat jenis adalah:
Gs = ys / yw
Gs tidak berdimensi. Berat jenis dari berbagai jenis tanah berkisar antara 2,65 sampai 2,75 seperti pada Tabel 4.1 di bawah ini.

Tabel 4.1. Berat jenis tanah


Jenis TanahBerat jenis, Gs
Kerikil2,652,68
Pasir2,652,68
Lanau anorganik2,622,68
Lempung anorganik2,582,65
Lempung organik2,682,75

Kalibrasi Alat Ukur
1. Timbang labu ukur dalam keadaan kosong.
2. Masukkan air suling dalam labu ukur sampai batas garis skala kemudian keluarkan gelembung udara didalamnya dengan menggunakan pompa vacum.Tambahkan air suling bila masih kurang atau hisap kelebihannya dengan menggunakan pipet.
3. Keringkan bagian luar labu ukur gunakan kapas dan eather lalu timbang dengan ketelitian 0,01 gr, catat beratnya, dan catat temperaturnya (temperatur ruang) (Gambar 4.4.).


4. Dinginkan air suling dalam labu ukur (sampai ± 5ºC dibawah suhu ruang) dengan cara merendamnya dalam air es.
5. Tambahkan air sampai garis batas pada labu ukur yang terjadi penyusutan volume.
6. Keringkan bagian luar labu ukur gunakan kapas dan eather lalu timbang dengan ketelitian 0,01 gram, ukur dan catat suhunya.
7. Panaskan air dalam labu ukur diatas hot plate (sampai ± 5ºC diatas suhu ruang).
8. Hisap dengan pipet kelebihanair yang terjadi karena pertambahan volume hingga tepat pada garis batas labu ukur.
9. Dan catat suhunya.
10. Isikan data-data tadi dalam formulir lalu buat grafik hubungan antara temperature dan berat labu ukur + air.

Tabel 4.2. Berat Jenis Air


°C0123456789
200,99820,99800,99780,99760,99730,99710,99680,99650,99630,9960
300,99570,99540,99510,99470,99440,99410,99370,99340,99300,9926
400,99220,99190,99150,99110,99070,99020,98980,98940,98900,9885

B. TUJUAN PRAKTIKUM

Pengujian ini dimaksudkan untuk menentukan berat jenis tanah yang lolos saringan No. 4 dengan menggunakan labu ukur.

C. PERALATAN

1. Labu ukur 100 ml (piknometer)
2. Thermometer 50ºC
3. Air suling
4. Botol air suling
5. Cawan perendam
6. Saringan No. 4
7. Timbangan ketelitian 0,01
8. Desicator
9. Pompa vacuum
10. Hot plate
11. Oven (110 ± 5) ºC

D. PROSEDUR PENGUJIAN

1. Siapkan benda uji secukupnya oven dengan temperatur 60ºC sampai dapat digemburkan atau pengeringan dengan sinar matahari.
2. Dinginkan dalam desicator, tumbuk bila menggumpal dengan mortar dan pastle, saring dengan sieve No.4.
3. Cuci labu ukur dengan air suling lalu bilas dengan alkohol dan eather kemudian biarkan mengering dalam ruangan terbuka atau gunakan blower.
4. Timbang labu ukur yang telah dikeringkan tadi dalam keadaan kosong.
5. Ambil sampel tanah sekitar 15-25 gram.
6. Masukkan sampel tanah tersebut kedalam labu ukur kemudian tambahkan air suling secukupnya.
7. Keluarkan gelembung-gelembung udara yang terperangkap didalamnya dengan menggunakan pompa vacum (Gambar 4.1 dan 4.2).



8. Tambahkan air suling sampai menyentuh garis batas labu ukur, ulangi berkali-kali sampai tidak terjadi penurunan air pada garis batas labu ukur tersebut.
9. Keringkan bagian luar labu ukur gunakan kapas dan eather lalu timbang dengan ketelitian 0,01 gram, ukur dan catat suhu air tersebut (Gambar 4.3).


10. Bersihkan dan timbangan pan kosong lalu tuangkan dalam labu ukur tersebut dalam pan sampai betul-betul bersih (tidak ada yang tersisa).
11. Masukkan pan berisi larutan tanah tersebut kedalam oven, pada themperatur 11 0ºC sampai kering (beratnya tetap).
12. Ulangi percobaan berikutnya dengan mengikuti prosedur 5 sampai dengan 11 sebagai bahan perbandingan.
13. Hitung nilai berat jenis (Gs) masing-masing percobaan.

E. PERAWATAN

Bersihkan labu ukur segera setelah selesai percobaan untuk menghindari kotoran yang melekat.

F. HASIL PRAKTIKUM

PENGUJIAN BERAT JENIS TANAH
Judul Pekerjaan : Praktikum Mektan
Lokasi Pekerjaan : Lab. Mektan Jurusan Teknik Sipil
Nomor Boring : BH1
Kedalaman : -0.60 M
Tanggal Pengujian : 01 Oktober 2010
Diuji Oleh : Kelompok 05 Rombel 03


LANGKAH PENGUJIANSATUANHASIL
  12
BERAT PIKNOMETER + TANAH W1gr65,8473,98
BERAT PIKNOMETER W2gr38,7940,9
BERAT TANAH WT = W1 – W2gr27,0533,08
SUHU t °C°C2727
BERAT PIKNOMETER + AIR + TANAH W3gr152,77158,93
BERAT PIKNOMETER + AIR PADA t °C W4gr135,98138,55
BERAT JENIS Gs PADA SUHU t °C (WT / (WT + (W4 – W3)))-2,642,60
(BJ air t°C) / (BJ air 27,5 °C)-1,00011,0001
BERAT JENIS Gs PADA SUHU 27,5 °C-2,642,60
RERATA BERAT JENIS Gs PADA SUHU 27.5 °C-2,62

G. PEMBAHASAN

Berat jenis tanah dinyatakan sebagai bilangan saja. Nilainya rata-rata adalah sebesar 2,65 dengan varisi yang agak kecil, yaitu jarang di bawah 2,4 atau diatas 2,8. Angka pori tanah juga dinyatakan sebagai bilangan saja. Nilainya dapat berkisar dari sekitar 0,3 sampai lebih dari 3,0.
Cara menghitung berat jenis tanah :
WT / (WT + (W4 – W3))
keterangan:
WT : Berat Jenis Tanah
WT : Berat Tanah
W3 : Berat Piknometer + Air + Tanah
W4 : Berat Piknometer + Air Pada t °C

Dari hasil praktikum di atas dapat kami simpulkan bahwa tanah pada kedalaman 60 cm dan suhu air 27,50 memiliki berat jenis tanah sebesar 2,62. Tanah dengan berat jenis tersebut termasuk ke dalam jenis tanah lempung an organik sesuai dengan tabel berat jenis tanah berikut ini.

Tabel berat jenis tanah


Jenis TanahBerat jenis, Gs
Kerikil2,652,68
Pasir2,652,68
Lanau anorganik2,622,68
Lempung anorganik2,582,65
Lempung organik2,682,75

MEKANIKA TANAH

Pengambilan Sampel Tanah dengan Bor Tangan

Bor tangan dapat digunakan untuk menggali lubang bor hingga kedalaman 5 meter dengan memakai seperangkat batang penyambung, Bor diputar sambil ditekan ke bawah dengan tuas berbentuk T di batang paling atas. Jenis bor yang umum digunakan adalah Iwan auger dengan diameter 200 mm (Gambar 1.1).

Bor tangan biasanya digunakan hanya bila sisi-sisi lubang bor tidak memerlukan penyangga dan bila tidak terdapat partikel-partikel berukuran kerikil atau yang lebih besar. Bor tersebut perlu dicabut berkali-kali untuk pengosongan tanah (Gambar 1.2).

Semua sampel harus diberi label yang jelas yang menunjukkan nama proyek, tanggal, lokasi, nomor lubang bor, kedalaman dan metode pengambilan sampel (Gambar 1.3).




Metode pengambilan sampel tanah dibagi dalam dua kategori utama yaitu tanah terganggu (disturbed sample) dan tanah tak terganggu (undistrubed sample).

Sampel tanah tak terganggu nantinya digunakan untuk pengujian kekuatan geser tanah dan konsolidasi. Sampel tak terganggu diperoleh dengan teknik-teknik tertentu dengan maksud mempertahankan kondisi struktur tanah dan kadar air di lapangan. Sampel tanah tak terganggu dapat diambil dengan tabung berdiameter kecil yang dipancangkan di bawah dasar lubang bor. Ketika tabung dibawa ke permukaan tanah, sedikit tanah di kedua ujung tabung dikupas lalu diberi lilin cair pada bekas kupasan tadi untuk mementuk suatu penyekat setebal 25 mm. Ujung¬-ujung tabung tersebut lalu ditutup dengan pelindung. Perlu sangat berhati-hati, dalam penanganan, pengangkutan dan penyimpanan sampel tanah sebelum dilakukan pengujian (Gambar 1.4).


Sampel tanah terganggu memiliki distribusi ukuran partikel yang sama dengan asalnya namun kadar airnya telah berubah dan struktur tanahnya telah rusak. Sampel tanah terganggu yang terutama digunakan untuk pengujian klasifikasi tanah dan pemadatan tanah.

Setelah sebuah penyelidikan selesai dan hasil-hasil uji laboratorium telah tersedia, kondisi-kondisi tanah yang ditemukan dalam tiap lubang bor diringkaskan dalam sebuah bentuk log lubang bor seperti pada Gambar 1.5 dan 1.6. Informasi log tersebut harus dapat digunakan untuk menilai dengan cepat profil tanah (Gambar 1.7).




Deskripsi tanah merupakan bahasa standar untuk mendeskripsikan karakteristik material dan massa tanah di lapangan. Perbedaan mendasarnya dengan klasifikasi tanah adalah tanah ditempatkan dalam salah satu dari beberapa kelompok berdasarkan hanya pada karakteristik material saja. Klasifikasi tanah cukup penting dan berguna jika tanah yang ditinjau akan digunakan untuk material konstruksi seperti timbunan tanah.

Karakteristik material tanah dapat ditentukan dari sampel tanah terganggu yang memiliki distribusi partikel yang sama dengan kondisi lapangan namun keaslian struktur tanah di lapangan belum terjaga pada sampel tersebut. Karakteristik utama material adalah distribusi ukuran partikel dan plastisitas yang digunakan sebagai pedoman penamaan. Sedangkan karakteristik material yang sekunder adalah warna tanah dan bentuknya, tekstur, serta komposisi partikel tanah.

Karakteristik massa tanah idealnya ditentukan di lapangan, namun dalam beberapa kasus dapat dideteksi dengan memakai sampel tanah tak terganggu dimana sampel tanah terjaga sifat-sifat lapangannya. Deskripsi karakteristik massa meliputi taksiran kekerasan atau kekuatannya di lapangan, dan rincian tempat diskontuinitas serta pelapukan tanah tersebut.

Jenis-jenis dasar tanah berdasarkan rentang ukuran partikel adalah kerikil (gravel), pasir (sand), lanau (silt), dan lempung (clay). Campuran dari jenis-jenis tanah dasar disebut dengan jenis komposit dengan komponen yang paling dominan ditulis dengan huruf besar. Tanah termasuk jenis pasir atau kerikil jika lebih dari 65% materal tersebut berukuran pasir dan kerikil. Sedangkan tanah termasuk jenis tanah lanau atau lempung jika lebih dari 35% material tersebut berukuran lanau dan lempung. Contoh deskripsi tanah misalnya, LEMPUNG, keras, plastisitas tinggi, cokelat muda, mengandung batu disana-sini.


Jenis Tanah Komposit Berbutir Kasar
KERIKIL sedikit berpasir (Slightly sandy GRAVEL). -->> sampai 5% pasir.
KERIKIL berpasir atau KERIKIL kepasiran (Sandy GRAVEL). -->> 5% - 20% pasir.
KERIKIL sangat berpasir (Very sandy GRAVEL). -->> pasir di atas 20%.
KERIKIL/PASIR (SAND and GRAVEL). -->> proporsi ± sama.

PASIR sangat berkerikil (Very gravelly SAND). -->> kerikil di atas 20%.
PASIR berkerikil (Gravelly SAND). -->> 5% - 20% kerikil.
PASIR sedikit berkerikil (Slightly gravelly SAND). -->> sampai 5% kerikil.
PASIR (atau KERIKIL) sedikit berlanau. -->> sampai 5% lanau.
PASIR (atau KERIKIL) berlanau atau
PASIR (atau KERIKIL) kelanauan. -->> 5% - 20% lanau.
PASIR (atau KERIKIL) sangat berlanau. -->> lanau di atas 20%.
PASIR (atau KERIKIL) sedikit berlempung. -->> sampai 5% lempung.
PASIR (atau KERIKIL) berlempung atau
PASIR (atau KERIKIL) kelempungan. -->> 5-20% lempung.
PASIR (atau KERIKIL) sangat berlempung. -->> lempung di atas 20%.

Jika pada tanah berbutir kasar (kerikil dan pasir) terdapat proporsi material berbutir halus (lanau dan lempung) yang cukup besar, sangatlah penting diketahui apakah material halus tersebut plastis atau non-plastis (apakah tanah itu lebih dominan lempung atau lanaunya). Di lapangan, kohesi dan plastisitas tanah dapat ditaksir dengan prosedur yang cepat yang melibatkan keputusan subyektif yang didasarkan atas penampilan tanah dan rabaan pada tanah. Sejumlah kecil tanah yang partikel-partikel terbesarnya telah disingkirkan diremas-remas dengan tanah dan bila perlu ditambahkan air. Kohesi dapat ditentukan jika tanah, pada kadar air tertentu dapat dibentuk menjadi suatu massa tanah yang relatif keras.

Plastisitas tanah dapat dilihat jika tanah dapat diubah-ubah bentuknya tanpa terjadi retakan maupun remahan yaitu tanpa kehilangan kohesi. Jika butiran halus suatu tanah dikatakan memiliki kohesi dan plastisitas maka butiran tersebut bersifat plastis. Jika kohesi dan plastisitas tidak ada atau sangat lemah, maka butiran halus tersebut bersifat non-plastis.

Plastisitas tanah berbutir halus dapat ditaksir dengan pengujian kekuatan kering, kekerasan dan dilatansi. Partikel-partikel kasar harus disingkirkan terlebih dahulu kemudian satu contoh tanah diremas-remas di tangan. Untuk mendapatkan konsistensi yang diinginkan, bila perlu tanah di tambahkan air atau dibiarkan kering hingga tercapai konsistensi yang sedikit lebih besar dari batas plastis.

Uji Kekuatan Kering. Secuil tanah dengan ketebalan 6 mm dibiarkan kering secara alamiah ataupun dalam oven. Kekuatan tanah kering tersebut ditaksir dengan mematahkan dan meremas dengan jari-jari tangan. Lempung anorganik memiliki kekuatan kering yang relatif lebih besar, makin besar kekuatan keringnya maka makin tinggi batas carinya. Lempung anorganik dengan batas cair rendah memiliki kekuatan kering yang kecil sekali bahkan ada yang tidak memiliki kekuatan kering dan mudah sekali diremas-remas.

Uji Kekerasan. Sepotong kecil tanah digulung berbentuk benang di atas permukaan datar atau di atas telapak tangan, diremas lalu digulung lagi sampai mengering dan hancur menjadi serpihan-serpihan kecil pada diameter 3 mm. Pada kondisi ini, lempung anorganik dengan batas cair tinggi cukup kaku dan keras, sementara yang batas carinya rendah lebih lembek dan lebih mudah hancur. Lanau anorganik menghasilkan benang-benang yang lembek dan lemah yang sulit dibentuk dan mudah patah dan hancur.

Uji Dilatansi. Secuil kecil tanah ditambahkan air seperlunya sehingga menjadi lembek tetapi tidak lengket, ditempatkan di atas telapak tangan terbuka (horizontal), telapak tangan digeser-geserkan di atas telapak tangan lainnya beberapa kali. Dilatansi ditunjukkan dengan munculnya lapisan air tipis yang bercahaya pada permukaan tanah. Jika tanah diperas dan ditekan dengan jari-jari tangan, permukaan tersebut menjadi suram dan tanah pun menjadi kaku dan tiba¬tiba hancur. Reaksi-reaksi ini hanya terdapat pada material yang ukuran lanaunya lebih dominan dan untuk pasir yang sangat halus. Lempung plastis sama sekali tidak bereaksi pada pengujian ini.

Kekerasan atau kekuatan tanah di tempat dapat ditaksir dengan pengujian-pengujian yang dijelaskan dalam tabel berikut ini.

No comments